Blog ini memuat tulisan mengenai berbagai hal yang yang sangat dekat dengan penulis. Menulis dengan menyentuh, bukan menerka, karena menerka belum tentu tepat.
Kamis, 21 Agustus 2014
Selasa, 19 Agustus 2014
CANGKEM: DICANCANG SUPAYA MINGKEM SILENT IS GOLD!!
Cangkem adalah
istilah Jawa yang identik dengan kasar. Cangkem
berarti mulut. Orang yang banyak bicara mengenai hal tidak penting, atau
hal-hal yang cenderung negatif, disebut dengan istilah cangkeman atau kakehan
cangkem (banyak omong). Jika istilah tersebut disandingkan dengan kerata basa atau akronim dari cangkem itu sendiri, maka penggunaan
istilah cangkeman atau kakehan cangkem kurang tepat.
Cangkem:
dicancang supaya mingkem (mulut: dibungkam supaya diam). Jika
diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia memang terkesan kurang luwes, namun
terjemahan bebasnya kurang lebih adalah demikian. Makna dari cangkem itu
sendiri adalah agar manusia tidak terlalu banyak bicara. Manusia diperkenankan
untuk bicara mengenai hal-hal yang baik dan penting saja. Manusia tidak
semestinya terlalu banyak bicara sehingga mengeluarkan kalimat-kalimat yang
tidak perlu. Pembicaraan yang terlalu panjang justru akan melebar pada topik
lain, misalnya justru membicarakan keburukan orang lain. Dalam menyampaikan
suatu gagasan, manusia biasanya tidak terhindar dari luput (salah), kadang menambahi, dan kadang juga mengurangi. Untuk
meminimalisir kaluputan (kesalahan)
yang ditimbulkan dari pembicaraan, maka manusia tidak diperkenankan untuk
banyak bicara. Masyarakat Jawa memiliki unen-unen
(pepatah) “Ajining dhiri gumantung ana ing lathi” (harga diri manusia
tergantung pada ucapannya).
Manusia-manusia yang banyak
bicara atau kakehan omong, justru
menurunkan wibawa. Manusia akan lebih dihargai ketika isi pembicaraannya sithik tur mentes (sedikit juga berisi)
atau sering disebut singkat dan padat. Manusia Jawa yang dikenal memiliki tata
karma dan sopan santun, dianjurkan untuk selalu bicara dengan halus, tidak
berteriak, dan tidak menyinggung orang lain. Manusia seyogyanya berbicara
dengan hati, sehingga mampu mengerti tanpa ada banyak suara yang keluar dari
mulut. Karena banyak suara berarti gaduh, dan gaduh sudah pasti tidak tenang,
padahal tujuan dari hidup manusia adalah memperoleh ketenangan.
LINGGA DAN YONI: SEBUAH JEJAK BUDAYA DI KECAMATAN BOJA DAN LIMBANGAN KABUPATEN KENDAL
Kecamatan Boja dan Limbangan
adalah dua dari beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Kendal. Letaknya
kurang lebih 30KM kearah selatan dari pusat pemerintahan kabupaten. Namun meski
jauh dari pusat pemerintahan, Boja dan Limbangan tidak menjadi daerah
tertinggal. Boja merupakan kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota
Semarang, sehingga pembangunan di kecamatan Boja relatif cepat. Sementara
Kecamatan Limbangan dikenal oleh masyarakat Kabupaten Kendal dan sekitarnya
karena memiliki objek wisata pemandian air panas Gonoharjo, atau biasa disebut
Nglimut.
Icon dari Kecamatan Boja adalah
pasar, yang merupakan tempat berlangsunya kegiatan ekonomi. Penjual dan pembeli
yang ada di Pasar Boja tidak hanya berasal dari masyarakat Desa Boja, tetapi juga
dari Kecamatan Limbangan, Kecamatan Singorojo, Kecamatan Kaliwungu, dan bahkan
dari Bandungan. Masyarakat sekitar Boja jika mengatakan “akan pergi ke Boja”
berarti tempat yang dituju adalah pasar.
Ditengah riuhnya kegiatan
perekonomian di Kecamatan Boja, ada satu sudut yang mungkin tidak diperhatikan
oleh banyak orang, yakni jejak sejarah yang ditunjukkan dengan keberadaan Benda
Cagar Budaya. Desa Campurejo dan Desa Karangmanggis menyimpan Benda Cagar
Budaya berupa lingga dan yoni yang bentuknya masih relatif utuh.
Gambar 1
(Yoni di Desa Campurejo, Boja)
Yoni merupakan manifestasi dari
alat kelamin perempuan, bentunya seperti lumpang
(alat untuk menumbuk gabah), dimana berbentuk persegi dan memiliki lubang pada
bagian tengah. Pada gambar diatas lubang ditutup menggunakan batu yang juga dibentuk
sedemikian hingga agar terlihat lebih cantik. Pada gambar berikutnya lubang
yang berada ditengah yoni terlihat lebih jelas, karena tidak ada penutupnya.
Sekitar lima tahun yang lalu
ketika gambar ini diambil, yoni yang berada di Desa Campurejo masih dirawat
dengan baik oleh masyarakat. Yoni tersebut terletak ditengah kebun bambu yang
dipagari oleh tembok sebatas dada manusia dewasa. Bunga kenanga beralaskan daun
pisang yang terletak diatas yoni dan kemenyan yang diletakkan disamping yoni
dengan alas selembar genting, seperti dapat terlihat pada gambar 1, merupakan
sesaji yang diberikan oleh masyarakat sekitar. Masyarakat mempercayai bahwa
yoni tersebut merupakan tempat tinggal Nyi Kentheng, yang merupakan danyang atau penguasa Desa Campurejo.
Kepercayaan tersebut merupakan
suatu bentuk dari dinamisme yang hingga saat ini masih diwarisi oleh masyarakat
Desa Campurejo. Kepercayaan mengenai suatu Benda Cagar Budaya memiliki kekuatan
magis atau merupakan tempat keramat, tentu berdampak positif pada kelstarian
Benda Cagar Budaya itu sendiri. Dengan masyarakat mengeramatkan, maka
masyarakat akan merawat dan tidak merusak, sehingga kelestarian Benda Cagar
Budaya dapat terjaga.
Gambar
diatas merupakan lingga dan yoni yang terletak di Desa Gonoharjo Kecamatan
Limbangan. Posisi lingga berada diatas yoni yang menjulang. Bentuk lingga lebih
sederhana, seperti batang yang bertingkat. Lingga adalah pasangan dari yoni,
yakni merupakan manifestasi alat kelamin laki-laki.
Makna yang diwujudkan dalam
bentuk lingga dan yoni adalah makna kesuburan. Subur tidak hanya diartikan
sebagai kesuburan manusia dalam bereproduksi, tetapi lebih pada budaya yang
dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai
masyarakat agraris, dimana sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian
sebagai petani. Kegiatan pertanian tidak mungkin berjalan tanpa didukung oleh
alam yang subur. Inilah makna secara umum yang digambarkan oleh masyarakat
Indonesia melalui lingga dan yoni.
BEJA, UNTUNG, SLAMET
Beja, untung, dan slamet adalah kata-kata yang sering diucapkan oleh masyarakat Jawa.
Beja dan untung memiliki makna yang sama, yakni beruntung, sedangkan slamet
memiliki arti selamat. Masyarakat awam mengatakan bahwa wong pinter kalah karo wong beja (orang pintar kalah dengan orang
yang beruntung), sementara motivator mengatakan bahwa keberuntungan adalah
ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.
Berbagai pendapat tentang
keberuntungan banyak berkembang di masyarakat, salah satunya adalah masyarakat
Jawa. Bagi pembaca sekalian yang merupakan orang Jawa, atau tinggal di
lingkungan masyarakat Jawa, pernahkah mendengar ungkapan beja dan untung dalam
setiap peristiwa? Bagi masyarakat Jawa, setiap hari seseorang selalu mendapat kabegjan (keberuntungan) dari Tuhan,
tanpa syarat apapun.
Beja dan untung selalu melekat dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat Jawa, meskipun mereka sedang tertimpa musibah. Baru-baru
ini ada kecelakaan yang menimpa salah seorang tetangga saya. Korbannya mengalami
patah tulang dibagian lengan. Ketika mendapat kabar anaknya mengalami
kecelakaan, Lik Ti (43th) seketika kaget dan menangis. Ia segera menyusul sang
anak yang dikabarkan sudah berada di Puskesmas. Sesampainya di Puskesmas Lik Ti
yang diantar oleh salah seorang keponakannya bertanya kepada pegawai Puskesmas,
dimana korban kecelakaan dirawat. Atas petunjuk pegawai puskesmas tersebut Lek
Ti berhasil menemukan ruang tempat anaknya dirawat.
“Oalah nang, apane iki sing lara?
“Jare dokter tanganku tugel iki.”
“Lha liyane ra ana sing lara?”
“Ora, iki tok.”
“Ya wis, syukur Alhamdulillah.. Beja mung tangane tok. Wis
orapapa, isih diparingi slamet karo Gusti Allah.”
Terjemahan adalah
demikian:
“Oalah nang, apanya ini
yang sakit?”
“Kata dokter tanganku
patah ini.”
“Lainnya tidak ada yang
sakit?”
“Tidak, hanya ini.”
“Ya sudah, syukur
Alhamdulillah.. Beruntung hanya tangannya saja. Sudah tidak apa-apa, masih
diberi keselamatan oleh Allah.”
Peristiwa lain yang saya temui
adalah ketika ada anak kecil berusia empat tahun yang jatuh dari sepeda.
Lukanya lumayan banyak karena jatuh pada jalan yang berkerikil dan berpasir,
disebelah tempat anak tersebut jatuh, ada parit yang cukup dalam. Orang tua si
anak mengatakan “untung kok ora nyemplung
kalen, nek nyemplung apa ra tambah bendhas.” (untung kok tidak jatuh di
parit, kalau jatuh di parit kan lukanya tambah banyak).
Ungkapan-ungkapan yang
menggunakan kata beja dan untung seringkali diucapkan oleh masyarakat Jawa
dalam berbagai hal, termasuk ketika terkena musibah. Ini menunjukkan bahwa
budaya Jawa mengajarkan masyarakatnya untuk selalu mensyukuri apa yang
diberikan oleh Tuhan, bahkan kematian sekalipun. Seperti ungkapan “untung kok matine gampang” (beruntung
meninggalnya dimudahkan), “untung kok
ndang dipundhut, nek lara terus kan mesakke” (beruntung segera diambil,
kalau sakit terus kan kasihan).
Keberuntungan tidak saja dilihat
sebagai hal yang serba nikmat, serba mudah, tetapi lebih kepada bagaimana kita
memaknai suatu keadaan. Bagaimana kita dapat mengambil hal positif dari segala
sesuatu yang terjadi, bahwa selalu ada hal yang bisa disyukuri dari setiap
keadaan.
Manusia-manusia Jawa berserah,
bahwa apapun yang terjadi padanya adalah semata karena kehendak Tuhan, dan
Tuhan tidak mungkin menjerumuskan umatnya. Tuhan selalu memberikan yang terbaik
bagi umatnya, sehingga apapun bentuk pemberian-Nya harus senantiasa disyukuri.
Manusia tidak boleh meri (iri hati)
dan maido (protes) terhadap apa yang
terjadi pada dirinya. Orang tidak akan menemukan ketentraman hati ketika meri dan selalu maido. Apapun yang ada dihadapannya selalu disalahkan, dan
menganggap bahwa semua yang dialaminya tidak adil.
Budaya Jawa yang selalu
menyertakan kata beja dan untung dalam setiap peristiwa, secara tersirat
mengingatkan kita bahwa subjektifitas manusia menganggap bahwa kehidupan dunia
ini tidak adil, namun Tuhan telah mengaturnya sedemikian rupa, agar dunia ini
seimbang. Keseimbangan inilah yang bisa membuat semua orang memiliki kedudukan
yang sama. Lalu jika semua orang kedudukannya sama, kenapa harus meri? Kenapa harus maido?
Slamet.............
Anak-anak di Jawa pasti sudah
kenyang dengan bekal selamat. Setiap akan pergi orang tua selalu berpesan “nyangoni slamet” (membekali
keselamatan). Sangu atau bekal tidak
hanya berupa uang atau benda yang dapat digunakan sewaktu-waktu ketika
bepergian, tetapi juga doa.
Doa merupakan bentuk kepasrahan
terhadap Sang Illahi, bahwa apapun yang terjadi adalah merupakan kuasa Tuhan,
sehingga manusia tidak boleh takabur. Manusia hanya bisa nenuwun (meminta) agar senantiasa diberi keselamatan.
Slamet merupakan
hal pertama yang diminta oleh setiap manusia. Slamet donya lan akherat (selamat dunia dan akherat). Slamet adalah keadaan dimana seseorang
terlindung dari segala bahaya, atau jika terancam bahaya dapat menghindar,
dapat meloloskan diri dari segala bentuk petaka. Tidak ada seseorang yang dapat
menjamin keselamatan orang lain, bahkan dirinya sendiri. Keselamatan hanya
kuasa Tuhan, sehingga manusia hanya
dapat memintanya.
Bagi manusia-manusia Jawa, ketika
bepergian seseorang tidak hanya membutuhkan uang atau makanan untuk bekal,
tetapi lebih daripada itu seseorang membutuhkan doa, khususnya doa keselamatan.
Jika Tuhan sudah mengaruniakan keselamatan, meski tak berbekal materi manusia
akan tetap dapat hidup kecukupan. “Ndilalah
ana wae sing nulung” (kebetulan ada saja yang menolong).
“Pitulungan kui mesthi dumugi saka Gusti, ning lantarane macem-macem.
Mula ta mula, yen tangamu disilih Gusti kanggo nulungi bebrayan aja njur
gembedhe. Manungsa mono mung sak drima nglakoni, ora kuasa apa-apa.”
“Pertolongan itu pasti datang
dari Tuhan, tetapi perantaranya bermacam-macam. Maka dari itu, kalau tanganmu
dipinjam oleh Tuhan untuk menolong sesama jangan lantas sombong. Manusia itu
hanya semata-mata menjalani, tidak memiliki kuasa apa-apa.”
LIHAT SEGALANYA LEBIH DEKAT, AGAR KAU MENGERTI
Manusia adalah makhluk yang
selalu dihadapkan pada kenyataan hidup, baik kehidupan di dunia maupun
kehidupan akhirat. Manusia berimajinasi mengenai kehidupan selanjutnya,
mengenai surga dan neraka. Beberapa orang mengatakan hal yang paling jauh
adalah masa lalu, tapi bagi saya imajinasi juga jauh, ketika kita tidak mampu
mewujudkan. Surga dan neraka adalah tempat yang kita imajinasikan dengan segala
bentuk gambaran, tanpa mampu kita sentuh.
Sebagai manusia awam, saya pun
turut larut dalam imajinasi demikian, hingga suatu saat saya membaca tweet tentang dakwah, bahwa surga adalah
tempat yang penuh dengan kenikmatan dan kemudahan, tempat yang disediakan oleh
Tuhan bagi manusia-manusia yang senantiasa bersyukur. Jika benar demikian, maka
sesungguhnya surga sangat dekat dengan kita. Surga “tidak hanya” tempat yang
dapat kita capai setelah meninggal, tapi juga “semua tempat” dimana kita
berpijak. Surga selalu kita bawa kemanapun kita melangkah. Saya tidak menyalahkan
ajaran agama mengenai keberadaan surga dan neraka setelah kita meninggal,
bahkan saya pun mengimani hal tersebut. Disini saya hanya mengajak pembaca
sekalian untuk melihat lebih dekat, agar mengerti, agar mampu menikmati, dan
merasakan kenyamanan surga yang juga disediakan Tuhan untuk kita yang masih
hidup di dunia.
Contoh mengenai penjelasan surga
yang dekat dengan kita adalah tubuh kita sendiri. Kita memiliki mata, yang kita
gunakan untuk melihat dunia. Melihat terang dan redupnya cahaya, membedakan
cerah dan gelapnya warna, dan menerjemahkan berbagai macam bentuk. Berbagai hal
dapat kita nikmati dengan pemberian Tuhan yang satu ini. Bayangkan jika kita
tidak punya mata, atau punya mata tapi tidak dapat digunakan untuk melihat,
gelap bukan?
Mereka yang tidak mampu melihat,
tidak lantas menjadi tidak bersyukur, karena Tuhan juga memberikan
kenikmatan-kenikmatan lain, seperti tangan, kaki, mulut, telinga, lidah, dan
banyak hal lain yang tidak terhitung. Mengapa Tuhan selalu melebihkan disetiap
kekurangan yang dititipkan kepada manusia? Karena Tuhan ingin semua manusia
dapat menikmati surga di dunia. Lalu mengapa Tuhan selalu menciptakan manusia
dengan kekurangan dan kelebihan? Dalam kesusahan dan kemudahan? Karena Tuhan
ingin agar manusia dapat menimati surga disetiap keadaan.
Sadarkah kita bahwa setiap kali
kita bersyukur akan segala sesuatu yang diberikan oleh Tuhan, kita merasa
dimudahkan? Kita merasa nikmat? Disitulah kita dapat menyentuh surga, berpijak
pada surga, dan merealisasikan apa yang kita bayangkan. Surga ada didalam hati
setiap manusia yang senantiasa bersyukur. Bukankah semua yang dilihat lebih
dekat akan membuat kita mengerti? Begitu juga dengan surga. Kita tak perlu
meraba, karena meraba belum tentu tepat. Jika kita mampu menyentuh, maka
sentuhlah!
Saya bukan ahli agama yang mampu
berbicara mengenai hadist, dalil, atau hal-hal yang lebih mendalam mengenai
agama. Saya hanya seorang muslim awam yang selalu ingin belajar tentang banyak
hal, dimulai dari hal yang paling dekat, dari hal-hal yang dapat kita sentuh.
Sejak berpikir tentang surga yang
ternyata sangat dekat dengan kita, saya mulai ingin menulis mengenai berbagai
hal. Mengenai sesuatu yang kita punya dan perlu kita bagi kepada banyak orang.
Karena saya percaya bahwa apapun yang kita bagi dan bermanfaat bagi orang lain,
akan mendatangkan manfaat baik bagi diri kita sendiri.
Semoga kita selalu menjadi
orang-orang yang senantiasa bersyukur, sehingga dapat menikmati surga di dunia
maupun di akhirat kelak, aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)